Artikel tentang CSR (Corporate Social Responsibility)
Setiap perusahaan memiliki cara
pandang yang berbeda terhadap CSR, dan cara pandang inilah yang bisa dijadikan
indikator kesungguhan perusahaan tersebut dalam melaksanakan CSR atau hanya
sekedar membuat pencitraan di masyarakat (Wibisono :2007). Setidaknya terdapat
tiga kategori paradigma perusahaan dalam menerapkan program CSR, diantaranya:
Pertama, Sekedar basa basi dan
keterpaksaan, artinya CSR dipraktekkan lebih karena faktor eksternal, baik karena
mengendalikan aspek sosial (social driven) maupun mengendalikan aspek
lingkungan (environmental driven). Artinya pemenuhan tanggungjawab
sosial lebih karena keterpaksaan akibat tuntutan daripada kesukarelaan.
Berikutnya adalah mengendalikan reputasi (reputation driven), yaitu
motivasi pelaksanaan CSR untuk mendongkrak citra perusahaan. Banyak korporasi
yang sengaja berupaya mendongkrak citra dengan mamanfaatkan peristiwa bencana
alam seperti memberi bantuan uang, sembako, medis dan sebagainya, yang kemudian
perusahaan berlomba menginformasikan kontribusinya melalui media massa.
Tujuannya adalah untuk mengangkat reputasi.
Disatu sisi, hal tersebut memang
menggembirakan terutama dikaitkan dengan kebutuhan riel atas bantuan bencana
dan rasa solidaritas kemanusiaan. Namun disisi lain, fenomena ini menimbulkan
tanda tanya terutama dikaitkan dengan komitmen solidaritas kemanusiaan itu
sendiri. Artinya, niatan untuk menyumbang masih diliputi kemauan untuk meraih
kesempatan untuk melakukan publikasi positif semisal untuk menjaga atau
mendongkrak citra korporasi.
Kedua, Sebagai upaya untuk memenuhi
kewajiban (compliance). CSR diimplementasikan karena memang ada
regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya karena ada kendali dalam
aspek pasar (market driven).
Kesadaran tentang pentingnya
mengimplementasikan CSR ini menjadi tren seiring dengan maraknya kepedulian
masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi
dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial. Seperti saat ini bank-bank di eropa
mengatur regulasi dalam masalah pinjaman yang hanya diberikan kepada perusahaan
yang mengimplementasikan CSR dengan baik. selain itu beberapa bursa sudah
menerapkan indeks yang memasukan kategori saham-saham perusahaan yang telah
mengimplemantasikan CSR, seperti New York Stock Exchange saat ini
memiliki Dow Jones Sustainability Indeks (DJSI) bagi
perusahaan-perusahaan yang dikategorikan memiliki nilai CSR. Bagi perusahaan
eksportir CPO saat ini diwajibkan memiliki sertifikat Roundtable Sustainability
Palm Oil (RSPO) yang mensyaratkan adanya program pengembangan masyarakat
dan pelestarian alam.
Selain market driven, driven
lain yang yang sanggup memaksa perusahaan untuk mempraktkan CSR adalah adanya
penghargaan-penghargaan (reward) yang diberikan oleh segenap institusi
atau lembaga. Misalnya CSR Award baik yang regional maupun global, Padma
(Pandu Daya Masyarakat) yang digelar oleh Depsos, dan Proper (Program Perangkat
Kinerja Perusahaan) yang dihelat oleh Kementrian Lingkungan Hidup.
Ketiga, bukan sekedar kewajiban (compliance),
tapi lebih dari sekdar kewajiban (beyond compliance) atau (compliance
plus). Diimplementasikan karena memang ada dorongan yang tulus dari dalam (internal
driven). Perusahaan telah menyadari bahwa tanggungjawabnya bukan lagi sekedar
kegiatan ekonomi untuk menciptakan profit demi kelangsungan bisnisnya,
melainkan juga tanggungjawab sosial dan lingkungan. Dasar pemikirannya,
menggantungkan semata-mata pada kesehatan finansial tidak akan menjamin
perusahaan bisa tumbuh secara berkelanjutan.
Perusahaan meyakini bahwa program
CSR merupakan investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability)
usaha. Artinya, CSR bukan lagi dilihat sebagai sentra biaya (cost centre)
melainkan sentra laba (profit center) di masa yang akan datang.
Logikanya adalah bila CSR diabaikan, kemudian terjadi insiden, maka biaya untuk
mengcover resikonya jauh lebih besar ketimbang nilai yang hendak dihemat dari
alokasi anggaran CSR itu sendiri. Belum lagi resiko non-finansial yang
berpengaruh buruk pada citra korporasi dan kepercayaan masyarakat pada
perusahaan.
Dengan demikian, CSR bukan lagi
sekedar aktifitas tempelan yang kalau terpaksa bisa dikorbankan demi mencapai
efisiensi, namun CSR merupakan nyawa korporasi. CSR telah masuk kedalam jantung
strategi korporasi. CSR disikapi secara strategis dengan melakukan inisiatif
CSR dengan strategi korporsi. Caranya, inisatif CSR dikonsep untuk memperbaiki
konteks kompetitif korporasi yang berupa kualitas bisnis tempat korporasi
beroperasi.
Manfaat CSR:
Sedikitnya ada 4 manfaat CSR
terhadap perusahaan yaitu :
1. Brand differentiation.
Dalam persaingan pasar yang kian kompetitif, CSR bisa memberikan citra
perusahaan yang khas, baik, dan etis di mata publik yang pada gilirannya
menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP (dengan bendera “Beyond
Petroleum”-nya), sering dianggap sebagai memiliki image unik terkait isu
lingkungan.
2. Human resources. Program
CSR dapat membantu dalam perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki
kualifikasi tinggi. Saat interview, calon karyawan yang memiliki pendidikan dan
pengalaman tinggi sering bertanya tentang CSR dan etika bisnis perusahaan,
sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama, CSR juga dapat
meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja.
3. License to operate. Perusahaan yang menjalankan CSR dapat mendorong pemerintah dan publik memberi ”ijin” atau ”restu” bisnis. Karena dianggap telah memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas.
4. Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau kerusakan lingkungan. Membangun budaya ”doing the right thing” berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.
3. License to operate. Perusahaan yang menjalankan CSR dapat mendorong pemerintah dan publik memberi ”ijin” atau ”restu” bisnis. Karena dianggap telah memenuhi standar operasi dan kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas.
4. Risk management. Manajemen resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau kerusakan lingkungan. Membangun budaya ”doing the right thing” berguna bagi perusahaan dalam mengelola resiko-resiko bisnis.
CSR yang dilakukan perusahaan dalam
kenyataannya merupakan wujud berbagi kepedulian. Namun dalam implementasinya,
sebuah perusahaan perlu dengan cermat memastikan bagaimana pola dan metode yang
akan dilakukannya bisa sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Terutama
dalam konteks ini bila menyangkut hal yang berkaitan dengan pemberdayaan
masyarakat. Sukses tidaknya pengelolaan CSR juga tergantung pada bagaimana
komunikasi dan pendekatan pihak perusahaan dengan masyarakat penerima manfaat
CSR.
Sumber(http://csr.pkpu.or.id/article/csr-dan-kepedulian-perusahaan, http://www.rahmatullah.net/2010/05/masalah-pengelolaan-program-corporate.html )
1. Perusahaan
yang menerapkan CSR
Aqua adalah sebuah air merek dalam kemasan (AMDK) yang
lahir atas gagasan almarhum Tirto Utomo (1990-1994),dan diproduksi oleh PT Aqua
Golden Mississipi. PT Danone Aqua Tbk adalah pelopor industri air minum
dalam kemasan (AMDK) di Asia tenggara, salah satunya Indonesia. Berdiri pada
tanggal 23 februari 1973 dan mulai mematenkan kemudian memasarkan produknya
dengan merek Aqua pada oktober 1974. Sejak tahun 1987 Aqua telah memasuki pasar regional
(Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Maladewa, Australia, New Zealand, Hong
Kong, Filipina, Vietnam). Di Indonesia sendiri Aqua telah memiliki 3 pabrik
yang masing masing berlokasi di Bekasi, Citeureup Bogor dan Mekarsari Sukabumi.
Pimpinan Danone Aqua
Parmaningsih Hadinegoro mengatakan, Aqua telah hadir di Indonesia lebih dari 35
tahun dan sejak awal kami membawa misi untuk menyediakan air minum dalam
kemasan yang sehat dan aman bagi seluruh lapisan masyarakat dengan memegang
teguh komitmen tanggung jawab sosial berkelanjutan.
Pabrik pertama di
Indonesia berdiri di Bekasi dengan peluncuran produksi Aqua kemasan botol kaca
ukuran 950 ml, pabrik kedua terletak di kota Pandaan, Jawa Timur. Kemudian
dilakukan pengembangan produk Aqua kemasan PET pada tahun 1985 sehingga lebih
berkualitas dan aman untuk dikonsumsi. Di tahun 1993 Aqua mengadakan program
Aqua peduli (Cares) sebagai langkah pendaur ulangan botol plastik Aqua menjadi
materi pelastik yang dapat digunakan kembali. Di Indonesia sendiri Aqua telah
memiliki 3 pabrik yang masing masing berlokasi di Bekasi, Citeureup Bogor dan
Mekarsari Sukabumi. Aqua telah memiliki 1.000.000 titik distribusi yang
dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.
Penyatuan Aqua Danone
terjadi 4 september 1998 berdampak pada peningkatan kualitas produk menjadi
produsen AMDK terbesar di Indonesia. Di tahun 2000 Aqua meluncurkan produk
berlabel Danone Aqua kemudian Danone meningkatkan kepemilikan saham di PT Tirta
Investama daro 40% menjadi 47% sehingga Danone menjadi pemegang saham mayoritas
Aqua Group.
Aqua memiliki standart operasional yang tinggi yakni
bahan baku air digunakan berasal dari sumber mata air pegunungan yang
mengandung mineral mineral penting dan seimbang. Setiap tetes Aqua melalui
proses 27 langkah tepat sistem Hydro pro untuk menjamin kemurniannya. Selain
itu Aqua juga memperhatikan dalam aspek teknologi kemasan dan tentunya
pelayanan konsumen.
Aqua adalah perusahaan yang mengutamakan kesterilan
dan kehigienisan, terbukti ia memiliki laboratorium modern untuk menguji
produknya dan staf peneliti yang tinggal didalam perusahaan, ahli mikrobiologi
dan ahli kimia. Selain itu untuk memenuhi standart air kemasan, Aqua telah
diakui oleh PBB, badan pengawas makanan dan obat obatan Amerika, agen
perlindungan lingkungan amerika dan asosiasi air kemasan internasional.
I.2 CSR AQUA
Mengingat Aqua adalah perusahaan yang telah melayani
masyarakat hampir 40 tahun, Aqua juga menggunakan sumber daya alam yakni sumber
air bersih, oleh karena itu untuk menjaga kesinambungan serta keseimbangan
penggunaan sumber daya agar tetap terjaga dan manfaatnya bagi masyarakat luas
dan menciptakan pertumuhan sumber daya yang berkelanjutan. Oleh karena itu
dirasa penting Aqua melakukan kegiatan CSR, dalam rangka sebagai wujud komitmen
dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan menerapkan kegiatan berbasis
masyarakat dalam menjalankan programnya. Kampanye yang telah dimulai sejak
tahun 2007 ini juga adalah sebuah kampanye berkelanjutan mengenai kebaikan alam
(Goodness of nature).
Salah satu program Aqua
adalah WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) tujuanya untuk
memberikan solusi dalam penyediaan air bersih di Indonesia. Didalam program
WASH ini adalah program ‘Satu Untuk Sepuluh’, program ini juga mendukung
program Millenium Development yang dicanangkan oleh PBB tujuannya untuk
memerangi kemiskinan dan kelaparan diberbagai belahan dunia yang ditarget pada
tahun 2015.
Program yang akan
dibahas kali ini khusus pada CSR Aqua yang telah terlaksana yaitu program “1L
Aqua untuk 10L Air Bersih”, menurut Binahidra Logiardi, manajer PT Tirta
Investama yang membawahi perusahaan Aqua, slogan ini adalah ungkapan simbiolis
untuk memudahkan pemirsa mencerna pesan yang ingin Aqua sampaikan,
dimana setiap 1 liter yang terjual telah membantu 10 liter air bersih
untuk 4 kecamatan.
Program ini didasarkan
pada fakta yang menjelaskan bahwa ait adalah kebutuhan mendasar bagi manusia,
namun permasalahanya tidak semua orang dapat mengakses air bersih, karena
faktor demografis yang membutuhkan infrastruktur memadai untuk itu. padahal
kesehatan lingkungan dan diri adalah sesuatu yang mahal dan harus dijaga oleh
pribadi individu.
Program
ini dilaksanakan di Timor Tengah Selatan karena berdasarkan survey terbaru yang
dilakukan ACF (Action Contre la Faim). NTT dianggap sebagai wilayah yang tepat,
karena sedang mengalami program kelangkaan air bersih dibagian belahan timur
Indonesia (program satu untuk sepuluh, 2007). Masyarakat NTT juga masih kesulitan dalam
mengakses air bersih, mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan
jauh, medanya pun terjal, berbatu bahkan harus melewati sungai. Dibutuhkan
waktu sekitar satu jam untuk membawa pulang dan pergi air dalam jerigen tiap
harinya.
Kelangkaan air ini
sangat berpengaruh pada banyak aspek, mulai dari anak anak yang mau tida mau
harus membantu orang tua mereka untuk mendapatkan air, sehingga waktu bermain
dan belajar merekapun sering terabaikan oleh hal ini, ancaman ragam penyakit
juga menghantui mereka mulai dari demam berdarah, diare hingga malaria adalah
penyakit yang sudah biasa mereka derita.
Berangkat dari
permasalahan diatas, Aqua berkomitmen untuk memperbaiki kesejahteraan anak
Indonesia. Untuk setiap liter produk Aqua berlabel khusus yakni Aqua 600 mm dan
1.500 mm dijual maka konsumen telah membantu program Aqua denga menyumbangkan
10 liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu Aqua akan
memperpendek jarak sumber air ke pemukiman penduduk dengan cara menempatkan
pipa pipa ke tempat yang lebih mudah dijangkau. Sehingga jarak tempuh satu jam
kini bisa diubah dengan jarak 200 meter saja, karena air bersih akan disalurkan
melalui pipa pipa tersebut.
Aqua telah memberikan
akses tersebut kepada 12.000 penerima bantuan dibeberapa desa kecamatan Boking
dan Amanatun Utara NTT. Dalam program ini sumber mata air pegunungan yang
terdapat didesa ditutp dengan menggunakan bangunan dari semen kemudian air
tersebut dialirkan ke dusun melalui 11 titik keran air, penyaluran tersebut
menggunakan dua prinsip teknologi yakni berdasarkan gravitasi dan pompa hidran.
Panjang total pipa yang dibangun adalah 6 km,
Tujuan program ini dikatakn berhasil karena targetnya
telah terpenuhi :
1. Perbaikan infrastruktur air bersihdan jumlah
ketersediaan air bersih, telah dipangkasnya jarak tempuh yang jauh menjadi
lebih dekat sehingga mempermudah kebutuhan hidup mereka.
2. Terciptanya kesadaran hidup sehat malalui penyuluhan
kesehatan.
3. Kerjasama dengan stakeholder lokal untuk mendukung
keberlanjutan program.
I.3 Waktu Program
Program ini dimulai pada bulan Juli 2007 dan berakhir
pada September 2007. Kemudian dilakukan riset awal di Timor tengah untuk
pemantauan program pada Maret 2008 hingga Juni 2008. Program tersebut tidak
hanya berhenti disitu saja, karena Aqua ingin benar benar melakukan perubahan
kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial Aqua terhadap
masyarakat. terbukti pada tanggal 13 September 2009 hingga 10 tahun kedepan.
Aqua mengadakan program yang bernama “Satu Untuk Sepuluh”. Tujuannya adalah
untuk mempromosikan gaya hidup sehat dengan menyediakan akses air bersih dan
pendidikan seputar kesehatan. Target program ini diharapkan dapat menjangkau
18.900 penerima bantuan didesa desa, Kecamatan Boking, Amanatun Utara, Toianas
dan Noebana. Dalam program ini yang telah sukses diwujudkan adalah :
- Penyediaan Akses Air Bersih yang lebih mudah
- Penyuluhan Pola Hidup Sehat
- Pemberdayaan Masyarakat di wilayah tersebut
Sebuah kegiatan
dikatakan termasuk CSR jika memiliki ciri ;
a.
Identifikasi
yakni
Aqua harus bisa memprioritaskan kegiatan tersebut untuk orang orang yang
benar benar membutuhkan (needs) dibanding mementingkan keinginan (wants),
disini Aqua berprioritas untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk
masyarakat NTT, hal ini menunjukan bahwa disamping Aqua adalah sebuah
perusahaan besar yang juga memiliki komitmen terhadap masyarakat dengan
memberikan kontribusi yakni melakukan kegiatan untuk mengatasi kelangkaan air
bersih salah satunya di NTT.
b.
Continuity
yakni
kegiatan yang bersifat terus menerus atau berkesinambungan. Hal ini dikarenakan
untuk dapat mengubah perilaku dan mindset masyarakan tentang pentingnya air
bersih sehingga untuk merubah kedua hal tersebut dibutuhkan jangka waktu yang
panjang, Kegiatan Aqua ini bertajuk WASH (Water Access,
Sanitation, Hygiene Program) didalamnya terdapat
program ‘1 liter untuk 10 liter’ dan dilanjutkan dengan program ‘satu untuk
sepuluh’ dengan jangka waktu hingga 2020 untuk membantu daerah daerah yang
sedang mengalami krisis air bersih.
c.
Empowering
yakni
kegiatan yang dilakukan menekankan pada aktivitas tersebut dilakukan oleh
masyarakat yang bersangkutan. Yakni Aqua memberikan penyuluhan penyuluhan
kesehatan untuk membekali masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan air
bersih yang benar. Dalam pengerjaan fisik Aqua juga melibatkan masyarakat
karena tiap dusun memiliki komite air yang bertugas merawat instalasi. Sebanyak
127 komite air telah dibekali dengan berbagai keterampilan agar masyarakat
dapat mengelola sarana air bersih, memberikan edukasi melalui kegiatan seperti
pemutaran film, pertunjukan drama.
I.5 Model Two Ways Asymmetrical
Public relation dalam kampanye artinya telah melakukan
komunikasi dua arah (two ways asymmetrical), perusahaan menjalankan program komunikasi kepada
publik dan memperhatikan adanya feedback dari publik. Hasil yang diharapkan adalah pembentukan
sikap publik yang sesuai dengan keinginan perusahaan. Model komunikasi humas
yang mampu menyeimbangkan nilai nilai personal dengan nilai nilai profesional.
Serta antara nillai nilai perusahaan dengan nilai nilai publik. Komunikasi dua
arah dalam proses dialog dengan publik untuk mencapai kesepahaman berkaitan
dengan konsekuensi dari keputusan atau tindakan organisasi.
Menurut Grunig dan
white (1992) dalam buku Public Relations dan Coorporate Social Responsibility
(Aswad Ishak dkk, 2011 : 108-109) model tersebut menekankan komunikasi dua arah
dan menekankan peran praktisi humas untuk memenuhi kepentingan publik sekaligus
menjadi penasehat pihak menejemen. Tanggung jawab sosial perusahaan sendiri
idealnya adalah realisasi dari pemahaman organisasi terhadap kebutuhan publik
sekaligus komitmen organisasi untuk melakukan tindakan sosial. Model ini
menekankan pencapaian program untuk tujuan jangka panjang
Berangkat dari model
diatas, CSR Aqua dan publiknya memiliki kekuatan atau ‘power’ yang sama dalam
mempengaruhi segala keputusan atau dampak akhir bagi kedua belah pihak
nantinya.Yakni apakah feedback baik yang disampaikan oleh publik tersebut dapat
membantu/mempengaruhi citra dan memperkuat branding Aqua untuk lebih baik,
begitu juga sebaliknya jika feedback yang disampaikan negatif maka akan
berpengaruh pada tujuan organisasi yang gagal. Artinya kedua belah pihak saling
mempengaruhi satu sama lainnya.
Dalam perjalanannya
model ini tidak selamanya benar, oleh karena itu banyak mendapatkan kritikan.
Dimana kedua belah pihak (perusahaan dan publik) tidak seluruhnya memiliki
‘power’ untuk saling mempengaruhi dalam memutuskan sebuah kebijakan, namun
pihak yang paling mendominasi adalah organisasi, ialah yang mengagendakan
seluruhnya dan publik disini hanya bisa pasif.
I.6 Komunikasi Persuasif Aqua
Dalam sebagian
aktivitasnya di eksternal perusahaan, Public relations (PR) melakukan sebuah
komunikasi yang secara tidak langsung bertujuan untuk mengajak dan mempengaruhi
publik untuk dapat mengikuti keinginan yang ditargetkan perusahaan, sehingga
terbentuklah sebuah sikap publik yang baik terhadap perusahaan. Public
relations dipandang sebagai sebuah usaha yang terencana dalam mempengaruhi
opini publik, yang umumnya dilakukan melalui komunikasi persuasif (Dan Lattimore
dkk, 2011:6). Komunikasi persuasif adalah suatu hal yang dilakukan
hampir disemua aktivitas PR.
Salah satunya yaitu
CSR, seperti yang telah dijelaskan diatas menurut Lord Holme dan Richard Wattss
dalam (Brand Magazine for brand believer,juli 2006:30), mendefinisikan CSR
adalah komitmen berkelanjutan perusahaan untuk berperilaku secara etis
dan berkontribusi kepada pengembangan ekonomi dengan tetap meningkatkan
kualitas hidup dari para pekerja dan keluarga mereka begitu juga halnya dengan
masyarakat sekitar perusahaan dan masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai bentuk tanggung
jawab sosial Aqua melakukan program CSR yang berkaiatan dengan pelestarian
lingkungan dan SDA, hal ini sinkron mengingat Aqua adalah perusahaan yang
berdasarkan pada air bersih (SDA) yang dari dulu hingga sekarang telah menjadi
kebutuhan paling mendasar. Jadi logikanya setiap manusia yang ada didunia ini
mau tidak mau pasti membutuhkan air bersih untuk menjaga kesehatan dan memenuhi
kebutuhan lainnya.
Disinilah Aqua mampu
masuk diantara kebutuhan tersebut, berkomitmen menjadi sebuah perusahaan air
minum dengan kadar sterilisasi yang tinggi menjadikan Aqua memiliki
kredibilitas luar biasa dimata publik. Didukung lagi banyaknya program
CSR Aqua yang semakin menarik simpatik publik bahwa Aqua bukan hanya perusahaan
yang mengejar profit semata, namun menunjukan perusahaan yang berkomitmen
tinggi untuk mengadakan perubahan sosial bagi masyarakat luas.
Kegiatan WASH yang
diusung Aqua merupakan kegiatan CSR, dengan bentuk kampanye PR. Kampanye PR
sendiri adalah suatu proses komunikasi terarah yang berprioritas dalam
memberikan penerangan secara terus menerus kepada khalayak agar terbangun suatu
pemahaman, motivasi, pengetahuan baru yang akan diterapkan dalam kehidupan
sosial masyarakat. WASH adalah sebuah kampanye jangka panjang karena Aqua
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan publik serta menumbuhkan
opini / persepsi positif tentang pemanfaatan air bersih yang nantinya akan
tercipta kepercayaan publik tehadap Aqua melalui penyampaian pesan secara.
2.
Perusahaan tambang sedikit yang menggunakan progam CSR
Ribuan Perusahaan Tambang di
RI, Hanya 10 Yang Jalankan CSR
Feby Dwi
Sutianto -
detikfinance
Sabtu,
14/07/2012 15:49 WIB

Jakarta -Program pemberdayaan dan pemeliharaan lingkungan dan
masyarakat sangat penting untuk perusahaan tambang. Namun masih sedikit
perusahaan tambang di Indonesia yang sadar dan serius melakukan program
tanggung jawab sosial (CSR).
Aktivis dari Lingkar Studi CSR Jalal menjelaskan, dari ribuan perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia, hanya sekitar 10 perusahaan yang secara serius dan berkelanjutan menjalankan program CSR.
"Jumlah perusahaan tambang di Indonesia banyak sekali, mungkin ribuan tetapi yang memiliki kesadaran yang memadai sampai 10, kalau perusahaan tambang yang legal," ungkap Jalal seusai diskusi CSR di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (14/7/2012).
Menurutnya, perusahaan tambang di Indonesia yang kebanyakan adalah perusahaan kecil dan sedang. Kepedulian mereka akan lingkungan khususnya dalam menjalankan program CSR sangat rendah.
"Sudah sangat jelas, kalau perusahaan kecil dan sedang itu kepedulian lingkungannya sangat rendah karena mereka mau beroperasinya dalam jangka pendek dan ambil sumber daya langsung pergi," sambungnya.
Sementara itu, perusahaan tambang besar yang jumlahnya hanya mencapai puluhan dan tergabung dalam Indonesia Mining Association (IMA) memiliki kesadaran CSR yang tinggi. Jika perusahaan tambang besar melakukan aktivitas yang merugikan lingkungan justru bukan hanya lingkungan sendiri yang terkena dampaknya, tetapi perusahaan itu sendiri juga akan dirugikan.
"Perusahaan-perusahaan yang lebih besar nggak bisa melakukan itu kerena investasi mereka dalam jumlah besar dan dalam jangka panjang. Mereka tidak akan memperoleh dukungan dari masyarakat untuk beroperasi dalam jangka panjang," katanya.
Jalal menilai semua perusahaan tambang, baik kecil hingga besar seharusnya wajib menjalankan program CSR secara serius dan berkelanjutan di lokasi pertambangan. CSR adalah sebuah manajemen pengelolaan dampak dari aktivitas pertambangan, sehingga tidak ada pengecualian skala usahanya.
"Karena CSR management, perusahaan-perusahaan yang lebih kecil kan dampaknya lebih kecil, seharusnya mereka bisa mengelola dampaknya yang kecil," tutup Jalal.
Aktivis dari Lingkar Studi CSR Jalal menjelaskan, dari ribuan perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia, hanya sekitar 10 perusahaan yang secara serius dan berkelanjutan menjalankan program CSR.
"Jumlah perusahaan tambang di Indonesia banyak sekali, mungkin ribuan tetapi yang memiliki kesadaran yang memadai sampai 10, kalau perusahaan tambang yang legal," ungkap Jalal seusai diskusi CSR di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (14/7/2012).
Menurutnya, perusahaan tambang di Indonesia yang kebanyakan adalah perusahaan kecil dan sedang. Kepedulian mereka akan lingkungan khususnya dalam menjalankan program CSR sangat rendah.
"Sudah sangat jelas, kalau perusahaan kecil dan sedang itu kepedulian lingkungannya sangat rendah karena mereka mau beroperasinya dalam jangka pendek dan ambil sumber daya langsung pergi," sambungnya.
Sementara itu, perusahaan tambang besar yang jumlahnya hanya mencapai puluhan dan tergabung dalam Indonesia Mining Association (IMA) memiliki kesadaran CSR yang tinggi. Jika perusahaan tambang besar melakukan aktivitas yang merugikan lingkungan justru bukan hanya lingkungan sendiri yang terkena dampaknya, tetapi perusahaan itu sendiri juga akan dirugikan.
"Perusahaan-perusahaan yang lebih besar nggak bisa melakukan itu kerena investasi mereka dalam jumlah besar dan dalam jangka panjang. Mereka tidak akan memperoleh dukungan dari masyarakat untuk beroperasi dalam jangka panjang," katanya.
Jalal menilai semua perusahaan tambang, baik kecil hingga besar seharusnya wajib menjalankan program CSR secara serius dan berkelanjutan di lokasi pertambangan. CSR adalah sebuah manajemen pengelolaan dampak dari aktivitas pertambangan, sehingga tidak ada pengecualian skala usahanya.
"Karena CSR management, perusahaan-perusahaan yang lebih kecil kan dampaknya lebih kecil, seharusnya mereka bisa mengelola dampaknya yang kecil," tutup Jalal.
(feb/dnl)
http://finance.detik.com/read/2012/07/14/154959/1965426/4/ribuan-perusahaan-tambang-di-ri-hanya-10-yang-jalankan-csr
3
Komentar bagi perusahaan yang belum
merapkan CSR dan yang sudah menerapkan CSR
a. Bagi perusahaan yang belum menerapkan
CSR pertama – tama tujuan CSR adalah
untuk mengembangkan masyarakat yang sifatnya produktif dan melibatkan
masyarakat didalam dan diluar perusahaan baik secara langsung maupun tidak
langsung, meski perusahaan hanya memberikan kontribusi sosial yang kecil kepada
masyarakat tetapi diharapkan mampu mengembangkan dan membangun masyarakat dari
berbagai bidan Maka dengan perusahaan yang yang tidak menggunakan CSR mereka
tidak akan mengerti cara mengembangkan dan membangun masyarakat dari segla
bidang karena perusahaan dituntut untuk menciptakan SDM yang andal. Secara
eksternal, perusahaan dituntut untuk melakukan pemberdayaan masyarakat,
biasanya melalui community development.dan tidak dalam kekayaan sendiri ,maka dari
itu sangat dibutuhkan penerapan CSR bagi perusahaan .
b.
Bagi perusahaan yang sudah menerapkan
CSR Kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan demi suatu tujuan sosial dengan
tidak memeperhitungkan untung atau rugi ekonomis. Hal itu bisa terjadi dengan
dua cara yaitu cara positif dan negatif. Secara
positif, perusahaan bisa melakukan kegiatan yang tidak membawa
keuntungan ekonomis dan semata-mata dilangsungkan demi kesejahteraan masyarakat
atau salah satu kelompok di dalamnya. Contohnya: menyelenggarakan pelatihan
keterampilan untuk penganggur. Kegiatan seperti itu hanya mengeluarkan dana dan
tidak mendapat sesuatu kembali. Tujuannya semata-mata sosial dan sama sekali
tidak ada maksud ekonomi. Secara negatif,
perusahaan bisa menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan tertentu,
yang sebenarnya menguntungkan dari segi bisnis tetapi akan merugikan masyarakat
atau sebagian masyarakat.